~ BELAJAR BERMASYARAKAT, BERANGKAT DARI RUTINAN ORGANISASI ~

KEGIATAN WARGA Lingkungan News Pemerintahan Potensi Desa Seni dan Kebudayaan Tokoh Masyarakat

Salah satu program kerja IPNU KAJEN yang langgeng terhitung semenjak periodesasi pertama sampai sekarang (menginjak tahun ke-tiga) adalah berzanjinan, yang tempatnya berpindah-pindah di Musholla se-Kajen. Kajen – Kamis, (5/12) Pimpinan Ranting IPNU KAJEN mengadakan ritunan berzanjinan yang bertempat di Musholla Nurul Huda RT 06 / RW 01 (perbatasan Kajen – Cebolek).

Acara yang berlangsung ba’dal Isya’ ini diikuti lebih dari 20 anggota yang kesemuanya pelajar pribumi (asli berkependudukan) Desa Kajen. Ada yang dari blok Kesambi, Sawah Jero, Mesjidan, Kidul Kibur, Kulon Banon, Wetan Banon, Tengahan, PKT (Putra Kajen Timur), Wetanan, Gerilya, Putra Kanjeng, Vaganza, Diofal, Polgarut, dan Buludan. Tidak hanya itu, mereka juga berlatar belakang pendidikan yang berbeda, Seperti Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Perguruan Islam al – Hikmah (Prima), SMK CORDOVA, Madrasah Salafiyah, Madrasah Manabi’ul Falah, dan ada juga beberapa Mahasiswa – Mahasantri (IPMAFA, Ma’had Aly PMH, dll).

Pada hari Selasa malam (3/12), perwakilan dari Pengurus Harian dan Koordinator Departemen Pendidikan & Pengkaderan IPNU KAJEN bersilaturahim kepada Ketua RT setempat guna meminta izin menggunakan Musholla Nurul Huda sebagai tempat menjalankan ritunan berzanjinan. Kami menghaturkan Surat Pemberitahuan Resmi yang satu hari sebelumnya sudah dibuatkan oleh Sekretaris IPNU KAJEN. Meskipun tidak membacanya (karena saat itu sedang tidak membawa kacamata), dengan senang hati, Bapak Nur Cholis langsung mengiyakan permintaan dari kami, dan kemudian memberikan arahan untuk matur kepada Seksi Keagamaan RT 06 / RW 01. Kami langsung pamit undur diri dan segera bergegas ke rumah yang diinformasikan oleh Pak RT. Akan tetapi kami belum dapat bertemu, dikarenakan orang yang kami tuju sedang bepergian ke Banjarnegara, dan disuruh untuk datang kembali besok siang.

Mengetahui hal tersebut, kami langsung berganti menuju ke kediaman Perabot Musholla Nurul Huda, yang rumahnya persis tepat di sebelah Utara Musholla. Kedatangan kami masih dengan maksud yang sama, yakni memberitahu dan meminta izin soal kegiatan ritunan yang akan kami adakan. Setelah kami salam, keluarlah pemilik rumah dan mempersilahkan kami untuk masuk. Singkat cerita, Bapak Syu’aib Amin (nama lengkap perabot Musholla Nurul Huda) menanyakan maulid apa yang biasanya dipakai berzanjinan IPNU KAJEN, kami pun menjawab maulid جدّة.
Beliau lanjut bertanya kembali “lha pesen ku mbiyen wes dilakoni ?,” Kami mencoba untuk mengingat-ingat pesan beliau (karena Musholla ini sudah pernah ditempati IPNU KAJEN, dan yang ini adalah untuk yang kedua kalinya). lanjut Bapak Syu’aib “sing moco maulid.e gentenan, ono ,أبتدي, ono جدّة ben ogak grotal gratul mocone, iso lancar, kabeh” – jawab kami, “Njeh Pak, sampun.” tambah kami “Njeh, biasane sampun diwaos gantosan, kadang nggeh جدّة , kadang nggeh أبتديء, ngangge غالب njeh nate,”. setelah banyak bincang-bincang, seputar kegiatan kami dan sudah agak lama, kami kemudian berpamitan dengan beliau.

Kamis sore keesokan harinya, kami kembali mencoba untuk sowan di Seksi Keagamaan RT 06 RW 01, yang kemarin sudah coba untuk kami datangi akan tetapi belum dapat bertemu, dikarenakan sedang bepergian. Sesampainya di depan rumah, kami berucap salam, dan mendapat jawaban salam dari dalam rumah untuk dipersilahkan duduk. Tidak menunggu lama, Bapak Ahmad Khadir keluar dari dalam rumah. Setelah sedikit basa – basi, kami lantas menyampaikan maksud kedatangan, “Njeh, sepindah badhe silaturahim, kaping kaleh, kula kaleh rencang niki sangking IPNU KAJEN, ngaturi persa, bilih mangke dalu badhe ngagem Musholla Nurul Huda kagem kegiatan ritunan berzanjinan, kala wingi sampun cubi kepangge kaleh Pak RT, lajeng diaturi matur kalian panjenengan, selaku Seksi Keagamaan, RT mriki”. Beliau lantas mengarahkan kami untuk datang ke rumah Bapak Yusman, yang keseharian juga sering ngurip-nguripi Musholla Nurul Huda. Kami menjawab dengan menceritakan, bahwasanya kemarin sore sudah bertemu dengan Bapak Syu’aib, dan kami merasa sudah cukup. (Berhubung saat itu sudah sore, dan malam harinya adalah waktu kegiatan, maka kami mengatakan cukup, karena takut merepotkan).

Berganti pembahasan, Bapak Khadir bercerita tentang masa mudanya dulu. Beliau pernah sebagai ketua Mubaligh se-Desa Kajen, yang bermarkas pusat di ndalemnya KH. Ali Mukhtar (Pon-Pes Al-Warasah / Al Masyitoh). Apa yang beliau jalankan waktu itu juga hampir sama seperti IPNU KAJEN, yaitu dengan berkeliling di Musholla-Musholla. Beliau teringat, teman-teman seperjuangannya saat itu. Beliau menyebutkan, diantaranya ada Bapak Ahmad Shodiq (salah satu pembimbing IPNU KAJEN), Bapak Junaidi Halim, Bapak Kastubi. Beliau bersama teman-temannya mengadakan kegiatan, latihan pidato. Mendengar apa yang dikenang oleh Bapak Khadir, kami merasa tersentuh, dan mendapat panggilan hati, serta termotivasi untuk lebih giat dan bersemangat melangkah kedepannya.

Ketika mau berpamitan, kami malah disuguhi secangkir minuman teh hangat. Hal ini menambah panjang perbincangan kami bertiga. Beliau merasa senang dengan pergerakan yang selama ini dilakukan IPNU KAJEN. Setelah kami meminum habis, kami berpamitan kembali untuk yang kedua kalinya, sambil berucap “Matur sembah nuwun, ngapuntene engkang katah, pangestunipun,” dan kembali ke rumah masing-masing.

Malam harinya (Ba’da Isya’), seperti biasa setelah Hadroh kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Mu’allif Kitab Al Barzanji Syaikh Ja’far Al Barzanji, Ulama’-Ulama’ NU, Para Masyayikh Kajen, dan para sesepuh, pembacaan barzanji dimulai. Sirah Nabi Muhammad ini, dalam maulid جدّة dibaca rekan-rekan secara bergantian, mengupayakan semua rekan ikut serta berpartisipasi. Selepasnya Mahallul Qiyam dan Do’a, shalawatan berlanjut dengan membacakan Sa’duna Fiddunya Qasidah KH. Maimun Zubair. Sya’ir tersebut sekaligus menutup berzanjinan Kamis malam Jumat Kliwon ini.

Jam menunjukkan hampir pukul sembilan, kami tidak langsung pulang. Ngobrol-ngobrol sembari menghabiskan jajanan yang sudah disediakan, ada kopi dan utok-utok. Disaat semuanya sedang asyik, kami berdua langsung sowan ke Bapak Syu’aib. Sudah menjadi tradisi memang, setelah acara berzanjinan selesai kami menghampiri rumah yang menjadi kediaman penanggung jawab atau sesepuh dari musholla yang kami tempati rutinan.

Kebetulan saat kami mau uluk salam, Bapak Syu’aib keluar rumah untuk memasukkan motor. Sekalian kami diajak pinarak. Dengan segala rasa hormat, kami berterimakasih sudah diberikan kesempatan untuk berzanji di Musholla ini. “Ngaturaken matur sembah nuwun sampun dipun izini mangen teng Musholla Nurul Huda, kagem kegiatan ritunan berzanjinan IPNU KAJEN”. Kami hanyut dalam perbincangan akrab. Ditanya tentang apa saja kegiatan IPNU KAJEN, anggotanya dari mana semua, sampai minggu depan mau lanjut ritunan bertempat dimana juga ikut beliau tanyakan. Bapak Syu’aib berharap, agar IPNU KAJEN dapat mengajak anak-anak yang putus sekolah (Drop Out). Karena lingkungan pergaulan anak usia pelajar sangat penting sekali untuk diperhatikan. Beliau juga mendo’akan, supaya IPNU KAJEN tidak berkurang anggotanya, syukur-syukur tetap, atau malah senantiasa bertambah. “Amin, pandunganipun,” jawab kami.

Dari sini, kami bisa mengambil pelajaran, betapa banyak hikmah yang didapat dari berkecimpung di organisasi IPNU KAJEN. Mulai dari belajar berinteraksi dengan masyarakat luas, mendapatkan cerita-cerita para pendahulu, menjadi saling kenal satu sama lain sebagai sesama orang Kajen,
belajar melestarikan ajaran Ahlussunah Wal Jama’ah An- Nahdliyah, dan masih banyak yang lainnya. Semoga ikhtiar kita bersama ini tetap Istiqomah dijalannya dan mendapatkan ridho dari Allah SWT, Amin Ya Rabbal Alamin.

Kajen, 19.19 WIB | Ahad, 8 Desember 2019

Oleh : Lembaga Pers dan Jurnalistik IPNU KAJEN

Tinggalkan Balasan